Minggu, 20 Februari 2011

‘Arwah Goyang Karawang’: Menjual Sensasi “Adegan Asli” Jupe-Depe Ketimbang Isi




Judulnya saja, secara tata bahasa, sudah cukup kacau. ‘Goyang Karawang’ jelas bukanlah sesuatu yang hidup dan memiliki ruh, sehingga rasanya aneh jika digandengkan dengan kata ‘Arwah’, yang artinya ruh atau sesuatu yang identik dengan itu. Kalau saja judulnya ‘Arwah Penari Goyang Karawang’ misalnya, mungkin masih bisa diampuni.

Film ini menuai publikasi setelah ribut-ribut antarkedua bintangnya, Julia Perez (Jupe) dan Dewi Persik (Depe). Cerita panjang mulai dari perseteruan hingga saling lapor polisi mewarnai proses produksi film ini. Hingga ketika film ini dirilis pada 10 Februari lalu, proses hukum ‘kasus’ mereka masih berjalan. Sensasi untuk promo?

Shanker RS selaku produser sudah barang tentu selalu berkelit dengan mengatakan, “tidak ada untungnya dari pertengkaran Jupe-Depe”, dan menekankan kalau itu bukanlah salah satu bentuk strategi promo film ini. Masak? Yang jelas, semenjak rilis, banyak penonton yang penasaran mengantri di loket bioskop pada akhir pekan lalu untuk menonton film ini.

Film ini dibuka dengan adegan pertengkaran antara Lilis (Jupe) dan sang suami Aji (Erlando). Diceritakan, Lilis terpaksa harus menjadi penari jaipong lagi di sebuah klab setelah sekian lama meninggalkan pekerjaan itu demi pernikahan. Namun, karena desakan ekonomi (suaminya menganggur setelah kena PHK), Aji pun tidak dapat mencegah Lilis untuk terjun kembali menjadi penari.

Setelah kembali, Lilis harus bersaing dengan Neneng (Dewi Persik) sang primadona yang sedang berjaya di klab itu. Lilis pun tak habis akal, ia kembali mencuri perhatian pengunjung dengan tarian jaipong inovatifnya. Lilis memadukan seni tari Jawa Barat itu dengan tarian telanjang. Tak pelak, aksinya itu mengundang lebih banyak pengunjung dan penghasilan si bos pemilik klab.




Dalam sekejap, Lilis mengambil alih status primadona dari Neneng, dan tentu mendapat bayaran paling besar di tempat itu. Neneng yang merasa disisihkan pun iri dan selalu mencari gara-gara dengan Lilis. Terjadilah perkelahian antara keduanya, dan sejak itu, hal-hal aneh terjadi. Lilis membunuhi satu-satu orang-orang di dekatnya, dari si bos pemilik klab, pengunjung, hingga tentu saja musuh utamanya, Neneng. Yang mengherankan, dia juga membunuh suaminya sendiri.

Ternyata, oh ternyata yang membunuh itu adalah arwah kembaran Lilis, bernama Lela yang berwujud hantu saat membunuh korbannya. Lalu, diceritakan kembali dengan kilas-balik bahwa Lilis mempunyai saudara kembar bernama Lela. Mereka sama-sama menekuni tari jaipong sejak remaja. Lilis pendiam dan lembut, sedangkan Lela sebaliknya, dan itulah yang membuat Aji jatuh hati pada Lilis hingga membuat Lela cemburu.

Ditambah lagi, Lilis kemudian diajak ke luar negeri untuk membuat film dokumenter tentang tari jaipong oleh seorang pria bule. Kecemburuan Lela tak dapat dibendung dan akhirnya membunuh saudara kembarnya itu, dan merekayasa kematian Lilis. Lela kemudian melanjutkan hidupnya dengan berpura-pura menjadi Lilis dan mengatakan, kembarannya yang meninggal gantung diri adalah Lela. Semenjak itulah Lilis ‘Asli’ menghantui kehidupan di sekeliling Lilis ‘Palsu’. Lalu, siapakah tokoh yang akan

berhasil membongkar kedok itu?

Lupakan! Film ini sama sekali tidak serius dengan apa yang ingin diceritakannya. Lihat saja adegan pertengkaran Lilis-Neneng, yang ditempeli keterangan tertulis: “Scene perkelahian asli saat shooting”. Hah? Apa kurang cukup dengan posternya yang sudah diembel-embeli “Termasuk Adegan Asli”? Meskipun, kita tidak pernah paham apa sebenarnya maunya produser dan pembuat film ini dengan menjual “adegan asli”. Memangnya ada film dengan “adegan palsu”?



Itu baru satu contoh betapa absurd-nya film ini. Mari kita lihat yang lain. Kita mulai dari tata pencahayaan, dari segi ini, gambar-gambar yang ditampilkan sangat gelap dan mengganggu mata. Terutama pada 45 menit pertama sangat terasa gelapnya, terkesan dibuat asal yang penting jadi, entah untuk meminimalisasi budget atau karena terburu-buru.

Bagaimana dengan akting? Sepanjang adegan, duo Jupe-Depe sangat dominan menonjolkan belahan dada dalam situasi apapun. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pemeran pembantu wanita lainnya. Penyutradaraan? Film ini jelas sebuah kemunduran bagi sang sutradara Helfi Kardit yang pernah menyutradarai ‘Lantai 13′ yang cukup bagus di kelas horor.

Harus diakui, duo Perez-Persik memang cukup membantu ‘derajat’ film ini lebih baik. Julia Perez bisa dibilang cukup sukses menghayati perannya, bagaimana ketika Lela yang psycho dan Lilis yang kalem bisa diperankan sekaligus dengan cukup manis. Atau, Dewi Persik yang haus kuasa bisa melampiaskan total emosinya ketika mencakar dan menjambak jupe (terlepas dari sensasi “adegan asli” tadi).

Pendatang baru Erlando juga cukup mewakili sosok dari suami ‘stres’. Ditambah lagi film ini mengangkat seni tradisional dari Jawa Barat. Namun sayang, ketika semua itu tidak didukung oleh teknis dan cerita yang bagus, maka hasilnya terkesan asal-asalan. Orang jadi menilai bahwa film ini hanya ‘menjual’ sensasi ketimbang isi.

0 komentar: